PELAJARAN DARI PKS, BAGI PARTAI & POLITISI

Pada era reformasi, partai tumbuh subur seperti jamur. Berbagai kelompok masyarakat dari kelompok agama, aliran agama, kepemudaaan, kedaerah, elemen buruh, dan lain sebagainya berlomba-lomba mendirikan partai.

Tak terkecuali adalah kelompok pengajian kampus, yang mayoritas masyarakat terdidik, idealis, dan mencita-citakan tatanan negara yang lebih baik, juga mendirikan partai yang awalnya diberi nama Partai Keadilan, lalu berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

PKS sempat menjadi idola dan harapan masyarakat serta menjadi “rising star” hingga menjadi partai 4 besar pada pemilu 2009. PKS di kenal dengan kesantunan para kadernya, sehingga hampir tidak pernah terdengar ada gejolak saat penentuan pengurus di semua tingkatan, maupun penentuan caleg yang di usung. Sistem perekrutan kader dan pembinaan kader, diakui cukup bagus. Bisa jadi kader non caleg yang mau iklas sukarela iuran untuk kegiatan partai hanyalah PKS. Dan bila di bandingkan “apel to apel” dengan partai lain, kader PKS lah yang paling santun, dan paling sedikit yang terkena masalah. Kegiatan kegiatan sosial mereka juga cukup sering dilakukan terutama bila ada bencana di berbagai daerah.

Karena hal itulah, PKS memproklamirkan diri (jargon), sebagai partai BERSIH, PROFESIONAL dan PEDULI. Kisah di atas semua, ungkapan PKS di masa lalu, sebelum ditangkapnya sang Presiden (LHI) oleh KPK.

Setelah penangkapan itu, PKS menjadi bulan-bulanan pembicaraan masyarakat, baik di TV, media maya, maupun di warung-warung pinggir jalan. Dampak dari efek “SKANDAL KORUPSI” walau sama sama melibatkan sang ketua / presiden, efeknya lebih dahsat di PKS (kasus LHI di kuota impor sapi) daripada di DEMOKRAT (kasus Anas di Hambalang). Seolah – olah semua kebaikan dan faktor positive PKS di atas hampir sirna. Mengapa reaksi masyarakat demikian tajam?

Hemat saya faktor – faktor yang menjadi penyebanya adalah :
1. Kesalahan pengurus PKS yang membuat jargon (Bersih, Profesional dan Peduli). Serta kesalahan sistem institusi PKS yang membawa nama agama (Islam) dalam kegiatan politiknya.

Jargon tsb, menentang kodrat manusia, di mana manusia secara alami, imannya dinamis naik turun. Sedangkan masyarakat belum terbiasa memisahkan antara oknum dan institusi.

2. Target 3 besar
PKS telah memasang target masuk di 3 besar, dengan perhitungan sekarang 3 besar sperti PDIP suaranya sekitar 14%, sedangkan PKS sekitar 7,8%. Itu hampir 100% kenaikan suaranya.

Suatu target politik yang besar atau tujuan besar apapun, pastinya membutuhkan dukungan dana yang besar pula. Walaupun dana itu bukan segala-galanya, tapi kenyataanya segalanya butuh dana. Karena niat perjuanganya adalah bersih dan suci, maka idealnya cara perjuanganya juga wajib dijaga dengan cara bersih dan suci pula.

Cara yang baik dan bersih, selain iuran kader, idealnya kadernya ada yang berjuang melalui usaha yang tidak terkait dengan pemerintah atau kewenangan politik, semisal TOKO SEMBAKO, Rumah Sakit, bengkel, perumahan, dll. Dengan modal iuran kader, dan hasil usahanya disumbangkan ke partai. Bila usaha tersebut di lakukan secara massive diseluruh daerah. Maka dalam jangka panjang 5 – 10 tahun, sumber dana partai tidak akan jadi suatu masalah.

Karena caranya harus suci, bermain-main anggaran, komisi, fee, atau mahar politik, idealnya harus di hindari. Karena mereka telah bikin jargon yang berbeda dari partai lain, maka konsekuensinya cara mereka harus pula berbeda.

Tentu kesabaran dan ketekunan diperlukan. Suatu ketentuan mutlak bagi siapapun yang ingin berhasil harus bersabar dan tekun. Tanpa ketekunan dan kesabaran, kita akan terburu-buru, termasuk terburu besar, serta terburu-buru mencari dana dengan cara yang beresiko.

3. Kader pelaku yang tidak sesuai dengan jargonya adalah pucuk pimpinan (simbol organisasi) yaitu sang Presiden PKS (LHI). Kenapa efeknya berbeda dgn Demokrat, yg pelakunya sama-sama melibatkan pucuk pimpinan organisasi. Faktor utamanya, karena LHI berperan sebagai ustad / ulama / tokoh agama. Seorang tokoh agama yang sering menceramahkan tentang kejujuran dan meproklamirkan diri bersih, bila tertangkap mencuri maka hukuman sosialnya sangat lebih berat dari pada pencuri atau orang biasa yg tertangkap mencuri walau nilai yang di curi berbeda 100x lipat.

Disamping hal diatas, sang mantan Presiden, melakukan hal yang kurang sesuai dengan issue sensitive bagi wanita. Bahwa LHI menikah punya istri 2 yang sah, masyarakat umum masih menghargai (walau ibu-ibu kebanyakan membeci), itu sebagai hak pribadi dan keyakinan LHI. Namun masyarakat bisa jadi timbul rasa benci, ketika mengetahui LHI sudah punya istri 2, kok masih saja bermain-main dengan wanita. Issue nya belum jelas betul, apakah bermainnya dengan nikah siri (Gosip seputar gadis DM) atau tanpa nikah siri. Indikasinya dari pembicaraan via telpon antara LHI dan FT, bahwa LHI di tunggu istri-istrinya.

Bagi muslim yang baik, bila betul yang menunggu adalah istri – istrinya, maka jadi suatu pertanyaan bila istri-istri kita berada dengan pria lain di luar rumah, dan suaminya sendiri tidak tahu. Itu yg menimbulkan kecurigaan, adanya ”istri-istrian”an. Terlepas mana yg benar, issue seputaran kehidupan pribadi LHI menyangkut wanita tersebut, membuat tidak simpatik masyarakat terutama kaum Hawa.

4. Reaksi kader dan pengurus PKS cari kambing hitam
Setelah LHI tertangkap, pengurus PKS berkoar-koar bahwa mereka di dzalimi, dan itu semua ada konspirasi dari Zionis, Israel dan Amerika.

Bahwa seorang berbuat salah itu biasa, namun seorang yang berbuat salah, tidak mengakui bahkan menyalahkan orang lain, ini derajat kesalahan tingkat 3 yang bikin jengkel orang lain.

5. Reaksi pengurus PKS yang melakukan perlawanan
Walau, bukti-bukti telah mulai dibuka di pengadilan, PKS (pengurus dan kader) mayoritas masih berkeyakinan adanya konspirasi, bahkan mereka menyerang balik kepada penegak hukum, dengan melakukan perlawanan saat penyitaan, melalui rapat di forum DPR dan kuekeh berdebat memaksakan pandanganya kepada publik di berbagai media.

6. Standar ganda
Para kader PKS, begitu ngotot untuk meminta diterapkanya azas praduga tak bersalah kepada LHI sebelum ada putusan pengadilan. Sehingga mereka melawan semua pandangan yang kontra terhadap PKS di berbagai media terutama media online, mereka masih yakin 100% LHI bersih. Sikap ini kontradiktive atau berbeda, dengan apa yang ditunjukan para pengurus PKS bila pelaku skandal adalah pihak lain, misal kasus Hambalang, Century, dll. Standar ganda umunya sering dilakukan oleh AS terhadap negara lain yg tidak sesuai kepentingnya. Isue standar ganda AS, sering di koar-koarkan PKS saat demo, namun ternyata ketika mereka yang terkena kasus, standar ganda ini juga di terapkan mereka pula.

7. Kontra opini di Media
Hampir tiap hari di Kompasiana, detik.com, dll selalu ada pihak yang pro dan kontra PKS. Yang pro PKS, bisa jadi adalah para kader yang masih percaya dengan doktrin yang disampaikan pengurus tentang konsiprasi dll. Ini adalah langkah kontraproduktive. Bahwa teori konspirasi itu bisa berguna untuk konsolidasi internal. Namun bila teori itu juga di paksakan kepada pihak exsternal, maka pihak exsternal akan makin menigkatkan tensi cacian dan tidak simpatiknya kepada PKS. Istilahnya, gosip, makin di gosok makin sip. Dan tentu semakin lama dan panjang di gosipkan untuk substansi yang kurang baik, PKS makin dirugikan.

8. CINTA BUTA para kader / simpatisan

Bisajadi kader atau simpatisan yang defensive dan mati-matian membela LHI , di landasi “RASA CINTA” kepada PKS dan pimpinan / tokohnya. Rasa Cinta, macam-macam modelnya : ada cinta sejati, cinta transaksi, cinta buta, dll. Cinta Sejati, di dasarkan pada nilai-nilai kebenaran, dimana kita mendukung disaat yg dicintai pada jalur yang benar, dan mengingatkan bila yg dicintai mulai keluar jalur atau sudah salah jalur. Cinta Transaksi : ada uang di sayang, tak ada uang di tendang. Cinta Buta bila benar atau salah yang dicintai tetap di dukung.

Para kader / simpatisan pembela LHI, lebih condong masuk klasifikasi CINTA BUTA. Mengapa demikian? Karena dari bukti-bukti penyadapan KPK, kesaksian sopir istri FT pernah di suruh menyerahkan uang ke LHI, adanya pertemuan dng importer, adanya deal-deal, dll. Bila kita orang netral, hati kita sulit untuk mengatakan bahwa LHI tidak terlibat. Andai betul FT, adalah agen asing yang disusupkan untuk merusak PKS, pertanyaanya kenapa LHI sang presiden, kader tertinggi, bisa tergoda? LHI aktive mengadakan pertemuan, menelpon, serta dengan jelas mensyaratkan 40 Milyar untuk jasa pengurusan kuota impor daging tersebut.

Bila Cinta Sejati, maka mengingat substansi persoalan LHI lebih condong pada posisi yang salah. Maka, sepatutnya kita tidak membela (membenarkan) tindakan orang yang kita cintai tsb. Lebih baik fokus untuk mencari hikmah, instrospeksi dan pembenahan diri orang / organisasi yang kita cintai. Perlu pula berterimakasih kepada orang yang memberi nasehat walau pahit, dan diam (legowo) bila rakyat yang tersakiti mencaci-maki.

Cinta Buta itu membahayakan bagi semua, dan Cinta Sejati akan mendekatkan kepada yang hakiki.

9. Kader PKS belum terlepas fase penolakan & marah atas kehilangan kenyataan
Ini pernah saya tulis, sesaat setelah pidato Anis Matta yang penuh emosional. Bahwa hidup itu hampir selalu diisi MENDAPATKAN – KEHILANGAN SESUATU. Proses kehilangan sesuatu yg sangat berarti secara psikologis ada 5 tahap : Penolakan, Marah, tawar menawar, depresi, menerima. Tahapan itu tiap kejadian dan tiap orang tidak sama lamanya ada yg 1 detik, ada yg berhari-hari, ada yg bertahun-tahun.

Ternyata, para pengurus dan kader PKS hingga sekarang masih banyak pada tahap PENOLAKAN / MARAH, atas kenyataan LHI terlibat skadal sapi.

10. Pemilihan komunikator Publik yang kurang tepat
Kader PKS banyak yang santun, namun sangat di sayangkan komunikasi ke publik PKS sering dilakukan oleh Fahri Hamzah yang dikenal emosional dan sumbu pendek. Masalah apapun, bila diselesaikan dengan emosi, dampaknya lebih mungkin jadi jelek daripada jadi baik.

Sungguh, cerita dan dampak bagi PKS bisa jadi akan lain, bila dari awal pengurus / kader PKS bersikap dengan tenang, introspeksi dan cari data / bukti dulu tentang substansi persoalan, lalu segera minta maaf ke publik dan legowo (diam). 5 hal langkah tersebut saya yakini ampuh untuk mengatasi persoalan (kesalahan), apapun dan seberat apapun masalahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s